Keunggulan Putri Kusuma Wardani Belum Cukup, Amallia/Fadia Bikin Indonesia Tertahan Taiwan 1-1

Skor imbang 1-1 mewarnai duel Tim Uber Indonesia kontra Taiwan di Grup C Piala Uber 2026 setelah dua partai awal menghasilkan satu kemenangan untuk masing-masing tim. Situasi itu membuat pertandingan di Lapangan 1 Forum Horsens, Denmark, tetap terbuka dan menegangkan sejak awal.

Indonesia sempat memperoleh modal penting lewat Putri Kusuma Wardani, tetapi keunggulan itu tidak bertahan lama. Ganda putri Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti gagal menambah angka ketika menghadapi pasangan Taiwan, Hsieh Pei Shan/Hung En-Tzu.

Start apik dari sektor tunggal

Putri Kusuma Wardani membuka laga dengan hasil positif setelah menundukkan Chiu Pin-Chian. Kemenangan tersebut memberi Indonesia awal yang ideal dan sempat membuat posisi Merah Putih terlihat lebih nyaman dalam menguasai jalannya pertandingan grup.

Hasil itu juga sempat menjaga harapan Indonesia untuk menekan Taiwan sejak partai pembuka. Namun, momentum yang sudah dibangun dari tunggal putri tidak berlanjut ketika giliran sektor ganda putri tampil.

Taiwan lebih stabil di poin-poin penting

Amallia/Fadia harus mengakui keunggulan lawan setelah kalah dua gim langsung dengan skor 21-23, 13-21. Laga berdurasi 45 menit itu memperlihatkan bagaimana Taiwan tampil lebih rapi pada momen krusial dan mampu memanfaatkan kesempatan saat permainan Indonesia mulai goyah.

Pasangan Hsieh Pei Shan/Hung En-Tzu terlihat lebih tenang ketika skor ketat. Mereka juga lebih cepat membaca celah permainan lawan pada fase-fase penentuan, sehingga tekanan perlahan beralih ke kubu Indonesia.

Kesalahan sendiri menjadi penghambat utama

Setelah pertandingan, Fadia menilai pasangan Indonesia tidak cukup fokus ketika poin-poin penting datang. Ia menyebut permainan kedua pasangan sebenarnya berjalan seimbang, tetapi keputusan di akhir gim pertama belum cukup baik.

“Kami mohon maaf tidak bisa menyumbang poin hari ini. Sudah mencoba tapi kita sama-sama sudah tahu permainan masing-masing,” ujar Fadia kepada Tim Media & Humas PBSI.

Fadia juga menyoroti pengalaman lawan yang sudah lama berpasangan. Menurut dia, hal itu membuat pasangan Taiwan lebih cepat menemukan celah dan lebih cermat dalam memanfaatkan situasi.

“Mereka sudah lama bermain bersama dan tadi mereka bisa lebih tahu untuk memanfaatkan celah yang ada. Kami harus bisa lebih cerdik lagi,” kata Fadia.

Gim kedua semakin berat

Amallia menambahkan bahwa rangkaian kesalahan sendiri membuat gim kedua berjalan lebih sulit. Ia menyebut eror yang muncul justru membuat pasangan Taiwan semakin percaya diri dalam mengendalikan permainan.

“Di gim kedua, kami banyak melakukan kesalahan sendiri yang membuat mereka lebih percaya diri,” ucap Amallia.

Indonesia sebenarnya masih mencoba menjaga tempo permainan sejak awal gim kedua. Namun, tekanan dari pasangan Taiwan terus meningkat dan membuat langkah Amallia/Fadia semakin berat untuk mengejar ritme yang hilang.

Partai berikutnya jadi penentu arah laga

Dengan skor sementara 1-1, perhatian kemudian beralih ke partai ketiga yang mempertemukan Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi dan Lin Hsiang Ti. Laga itu menjadi penentu penting bagi arah pertandingan Indonesia melawan Taiwan.

Kondisi tersebut menempatkan beban berikutnya pada sektor tunggal putri Indonesia untuk menjaga peluang tim Uber tetap terbuka. Setelah keunggulan awal tidak bisa dipertahankan, Indonesia perlu kembali menemukan kestabilan agar tidak memberi ruang bagi Taiwan untuk mengambil alih penuh duel Grup C.

Baca Juga

Back to top button