Pendidikan Sebelum Menikah Didorong Jadi Benteng Cegah Pernikahan Dini, Jateng Siapkan Generasi Lebih Tangguh

Dorongan agar calon pasangan mendapat pembekalan sebelum menikah kini mengemuka sebagai upaya menekan pernikahan dini di Jawa Tengah. Komisi E DPRD Jawa Tengah menilai langkah ini penting bukan hanya untuk urusan rumah tangga, tetapi juga untuk memperkuat kualitas generasi sejak dari pintu awal pernikahan.

Anggota Komisi E DPRD Jateng, Ida Nurul Farida, menyampaikan pandangan itu dalam Grand Launching Sekolah Pra Nikah di Ungaran. Ia menegaskan bahwa kesiapan menikah tidak cukup dilihat dari kelengkapan administratif atau kemeriahan acara, karena yang lebih menentukan justru kesiapan mental dan pengetahuan pasangan.

Pernikahan dipandang sebagai proses membentuk keluarga

Ida menilai kehidupan berumah tangga menuntut kedewasaan yang menyeluruh. Menurut dia, pembekalan pra nikah perlu dipahami sebagai proses yang membentuk cara pasangan menjalani kehidupan keluarga, bukan sekadar persiapan menuju hari pernikahan.

Ia juga menekankan bahwa pernikahan memiliki makna yang lebih dalam daripada status, acara, atau romantisme. Dalam pandangannya, pernikahan adalah amanah, ibadah, dan perjalanan seumur hidup yang akan berpengaruh langsung pada kualitas keluarga.

Dari sudut itu, pendidikan pra nikah disebutnya sebagai investasi jangka panjang daerah. Ida melihat program seperti Sekolah Pra Nikah dapat ikut melahirkan generasi penerus yang lebih berkualitas karena fondasi keluarga dibangun sejak awal.

Ketahanan keluarga jadi perhatian DPRD

Kegiatan di Ungaran itu juga sejalan dengan tugas Komisi E DPRD Jawa Tengah yang membidangi kesejahteraan rakyat, termasuk pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan perempuan. Karena berada dalam ruang kerja tersebut, isu ketahanan keluarga terus mendapat perhatian.

Ida menyatakan dukungan penuh terhadap program pembekalan pra nikah karena dinilai mampu memperkuat keluarga sejak awal. Ia menilai penguatan keluarga tidak bisa dilepaskan dari kesiapan pasangan yang akan memasuki kehidupan berumah tangga.

Dampaknya disebut tidak berhenti pada pasangan itu sendiri, tetapi juga menjangkau pola asuh anak di masa depan. Karena itu, kualitas pengetahuan sebelum menikah dipandang ikut menentukan kualitas sumber daya manusia.

Antusiasme peserta dari kalangan muda

Sekolah Pra Nikah di Ungaran mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat. Berdasarkan data panitia, program luar sekolah itu diikuti 110 pendaftar.

Mayoritas peserta berasal dari kalangan pemuda-pemudi di berbagai wilayah Kabupaten Semarang. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa isu kesiapan menikah dan penguatan keluarga mulai menarik perhatian lebih luas di kalangan generasi muda.

Kehadiran sejumlah tokoh dalam acara itu juga memperlihatkan dukungan lintas unsur terhadap edukasi pra nikah. Mereka antara lain Anggota DPRD Kabupaten Semarang Musyarofah, Ketua Forum Ayah Ungaran Saeful Huda selaku penyelenggara, serta budayawan sekaligus akademisi Dr Phil Habiburrahman El Shirazy Lc atau Kang Abik.

Dengan dorongan ini, pembekalan sebelum menikah ditempatkan sebagai langkah yang tidak hanya mencegah pernikahan dini, tetapi juga membantu membangun keluarga yang lebih siap menjalani tanggung jawab jangka panjang. Di saat yang sama, pendekatan tersebut dipandang relevan untuk memperkuat generasi muda melalui fondasi keluarga yang lebih matang.

Source: www.suaramerdeka.com

Baca Juga

Back to top button