Produksi Kopi Jatim Tembus 78,8 Ribu Ton, Serapan Lokal Masih Tertinggal Jauh

Pasar kopi di Jawa Timur sebenarnya punya ruang tumbuh yang besar, tetapi serapan di dalam daerah masih tertinggal jauh dari laju produksinya. Pada 2025, provinsi ini menghasilkan 78,8 ribu ton kopi, sementara pasar lokal baru menyerap sekitar 34 ribu ton.

Selisih itu membuat Jawa Timur berada dalam posisi surplus. Kondisi tersebut juga menegaskan bahwa kekuatan kopi daerah ini masih banyak bertumpu pada sektor hulu, sedangkan konsumsi di dalam negeri belum mengejar kapasitas produksi yang sudah terbentuk.

Data itu disampaikan Heru Suseno, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur, saat pembukaan Indonesia Coffee Expo 2026 di Surabaya, Jumat (29/5/2026). Ia menilai ajang ini bisa menjadi pengungkit bagi perkembangan industri kopi di daerah, terutama karena pasar lokal masih punya ruang yang belum tergarap maksimal.

Jawa Timur sendiri menempati urutan keempat terbesar dalam produksi kopi nasional. Posisi itu berada di bawah Sumatera Selatan, Lampung, dan Sumatera Utara, sehingga provinsi ini tetap menjadi salah satu penopang penting pasokan kopi di Indonesia.

Di tengah kuatnya produksi, pemerintah daerah mendorong pembinaan petani agar tidak berhenti pada tahap menanam. Arah pembinaan dibuat supaya petani mampu mengolah hasil hingga mendekati produk jadi, sehingga nilai tambah tidak hanya tertahan di kebun.

Pembinaan itu juga diarahkan kepada generasi muda. Sejumlah anak muda sudah mengikuti pelatihan dari hulu, mulai dari tahap tanam sampai menghasilkan kopi siap saji di cangkir.

Dari sisi industri, Rumpoko Hadi selaku Vice Project Director ICX melihat ekosistem kopi sedang bergerak positif. Menurut dia, pertumbuhan itu membutuhkan ruang yang mampu mempertemukan pelaku industri, komunitas, dan pencipta kopi dalam satu wadah kolaborasi.

Ia menilai pengembangan ekosistem kopi perlu dibuat lebih lengkap dan menyatu. Dengan begitu, pertemuan antarpelaku bisa berjalan lebih efektif dan mendorong rantai usaha kopi berkembang lebih luas.

Surabaya dipilih sebagai salah satu lokasi ICX karena antusiasme masyarakat terhadap pertumbuhan ekosistem kopi dinilai sangat besar. Dukungan terhadap pameran juga datang dari Setiyo Wibowo, Direktur Manajemen Risiko BTN, yang menyoroti rendahnya konsumsi kopi per kapita di Indonesia.

Setiyo menyebut konsumsi kopi per kapita di Indonesia masih berada di kisaran 1 sampai 1,1 kg per tahun. Angka itu jauh di bawah Amerika Serikat yang mencapai 4,8 kg per tahun per kapita, Eropa 5,7 kg per tahun, dan Brasil 6,4 kg per tahun.

Karena itu, pameran seperti ICX diharapkan tidak hanya menjadi ajang bisnis, tetapi juga sarana edukasi pasar. Target yang dibayangkan adalah mendorong konsumsi kopi per kapita naik ke kisaran 8 sampai 12 kg per tahun.

Bagi Jawa Timur, kondisi ini menunjukkan dua pekerjaan yang harus berjalan bersamaan. Produksi sudah kuat, tetapi serapan lokal masih perlu diperbesar agar industri kopi di daerah tidak hanya bergantung pada hasil panen, melainkan juga pada budaya minum kopi yang tumbuh di pasar domestik.

Source: www.suarasurabaya.net

Baca Juga

Back to top button