Bagi M. Sarmuji, ancaman begal dan premanisme sudah berada di titik yang tidak boleh lagi dianggap remeh. Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI itu menilai, ketika warga mulai takut keluar rumah atau melintas di jalan, negara harus tampil lebih tegas agar rasa aman tidak semakin hilang.
Sorotan itu muncul di tengah laporan meningkatnya kriminalitas jalanan di sejumlah daerah. Sarmuji menilai gangguan tersebut tidak berhenti pada urusan keamanan semata, karena dampaknya langsung terasa pada aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat yang bergantung pada ruang publik.
Ia menegaskan bahwa negara tidak boleh terlihat kalah di hadapan pelaku kriminal jalanan. Menurut dia, situasi itu membuat warga cemas, terutama mereka yang masih harus berangkat kerja atau pulang larut malam demi memenuhi kebutuhan hidup.
Patroli dan pencegahan diminta diperkuat
Sarmuji meminta kepolisian memperbanyak patroli rutin dan operasi pencegahan di titik-titik rawan. Ia menyebut jalur sepi, kawasan permukiman pinggiran kota, akses industri, serta jalan penghubung antardaerah sebagai lokasi yang kerap dimanfaatkan pelaku begal.
Menurut dia, aparat harus benar-benar hadir di lapangan agar masyarakat merasakan perlindungan secara langsung. Penanganan juga tidak boleh menunggu korban jatuh lebih dulu baru bergerak setelah kasus ramai diperbincangkan.
Ia menilai langkah pencegahan harus menjadi prioritas, bukan sekadar respons sesudah kejadian. Karena itu, kehadiran aparat disebut penting untuk memutus rasa aman yang rapuh di sejumlah wilayah rawan.
Dampaknya terasa ke pedagang dan pekerja lapangan
Selain soal rasa takut, Sarmuji juga menyoroti tekanan terhadap pelaku usaha kecil dan pekerja harian. Pedagang, pengemudi ojek, kurir, dan pelaku UMKM disebut menjadi kelompok yang paling rentan karena banyak di antara mereka bekerja pada jam rawan.
Ia menilai begal dan premanisme dapat langsung memukul jam operasional usaha. Ketika rasa takut meningkat, pedagang enggan membuka lapak sampai malam, sementara pengemudi juga bisa menghindari jalur tertentu yang dianggap berbahaya.
Dalam pandangannya, gangguan di jalan bukan hanya soal tertib atau tidak tertib. Keadaan itu juga dapat menekan penghasilan masyarakat yang menggantungkan hidup pada mobilitas malam hari.
Kasus di berbagai daerah jadi penanda ancaman masih nyata
Sarmuji turut menyinggung rangkaian kasus yang terjadi di Lampung, Makassar, Pasuruan, Bandung, Tangerang, Jakarta Barat, dan wilayah lain sepanjang Mei 2026. Deretan peristiwa tersebut, menurut dia, menunjukkan kriminalitas jalanan masih menjadi ancaman nyata yang perlu ditangani dengan serius.
Ia menekankan bahwa persoalan ini tidak bisa diperlakukan sebagai tindak kriminal biasa. Dampaknya meluas karena banyak warga masih beraktivitas hingga malam bahkan dini hari, baik untuk bekerja maupun untuk kembali ke rumah.
Karena itu, ia mendorong penanganan yang tidak berhenti pada reaksi sesaat. Menurut dia, rasa aman masyarakat harus dipulihkan agar ruang publik kembali bisa digunakan tanpa kecemasan.
Negara diminta hadir lebih kuat di ruang publik
Sebagai Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Sarmuji juga meminta Polri bertindak lebih tegas terhadap premanisme dan begal. Ia menilai aparat perlu menunjukkan kehadiran negara melalui langkah yang cepat, terukur, dan konsisten.
Ia menyoroti praktik premanisme yang berkedok pungutan liar, intimidasi, atau penguasaan wilayah tertentu. Menurut dia, pola seperti itu tidak hanya mengganggu ketertiban umum, tetapi juga merusak iklim usaha dan kenyamanan warga.
Sarmuji menegaskan bahwa penegakan hukum harus memberi efek jera. Pelaku kriminal jalanan, termasuk jaringan penadah hasil kejahatan, diminta diproses sesuai hukum agar tidak terus tumbuh.
Fasilitas keamanan publik juga perlu dibenahi
Ia menilai pengamanan kota dan daerah penyangga perlu dievaluasi secara menyeluruh. Patroli konvensional, menurut dia, belum cukup jika tidak dibarengi dengan perbaikan fasilitas keamanan publik.
Sarmuji menyebut penerangan jalan, CCTV, pengawasan lingkungan, serta koordinasi aktif antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat perlu diperkuat. Ia juga menyoroti bahwa banyak kasus begal terjadi di lokasi yang minim penerangan dan pengawasan.
Di akhir pernyataannya, Sarmuji mengajak warga tetap waspada, saling menjaga lingkungan, dan segera melapor bila menemukan aktivitas mencurigakan di sekitar mereka. Ia menegaskan pencegahan dan penindakan harus berjalan seiring agar ruang publik tetap aman bagi warga yang bekerja dan beraktivitas setiap hari.
Source: www.viva.co.id




