Insiden yang melibatkan KM Sabuk Nusantara 106 di Banda Neira berujung pada kerusakan rumah warga dan sejumlah fasilitas milik masyarakat di sekitar pelabuhan. Kapal itu disebut tak sepenuhnya bisa dikendalikan saat proses sandar berlangsung, lalu menghantam permukiman yang berada tidak jauh dari area dermaga.
Peristiwa tersebut terjadi ketika kapal baru tiba dari Pelabuhan Amahai dan bersiap merapat ke Pelabuhan Banda Neira, Kabupaten Maluku Tengah. Meski tidak ada korban jiwa maupun luka-luka, dampak benturan tetap dirasakan warga karena rumah serta perlengkapan melaut ikut terdampak.
Gangguan mesin saat proses sandar
Keterangan awal dari kepolisian menyebut persoalan bermula saat posisi kapal masih sekitar 500 meter dari dermaga. Pada tahap itu, nakhoda sempat memerintahkan mesin dinetralkan, namun laju kapal tetap berjalan.
Kapolsek Banda Iptu A. Rahayamtel menjelaskan bahwa kendali kapal kemudian terganggu saat proses merapat ke pelabuhan belum selesai. Dalam situasi tersebut, awak kapal berupaya melakukan manuver agar kapal bisa diperlambat dan diarahkan dengan aman.
Masalah utama disebut muncul pada mesin kanan yang mengalami error pada handle throttle. Kondisi itu membuat mesin tetap mendorong kapal maju, meski sudah dipindahkan ke gigi mundur.
Upaya awak kapal tidak cukup menghentikan laju
Saat situasi makin sulit dikendalikan, awak kapal mencoba menahan pergerakan dengan menjatuhkan jangkar. Namun, upaya itu tidak berhasil menghentikan kapal secara penuh.
Akibatnya, KM Sabuk Nusantara 106 tetap bergerak hingga akhirnya menabrak area permukiman warga di sekitar pelabuhan. Benturan tersebut membuat sejumlah aset warga mengalami kerusakan dan menimbulkan kerugian material.
Polisi mencatat satu rumah warga rusak dengan nilai kerugian sekitar Rp10 juta. Selain itu, satu unit long boat dan mesin ketinting milik warga juga ikut rusak dengan total kerugian sekitar Rp50 juta.
Tidak ada korban jiwa, penyebab masih ditelusuri
Meski kejadian berlangsung dekat permukiman, aparat memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka. Kondisi ini menjadi perhatian karena kerusakan yang timbul tetap berdampak langsung pada aktivitas warga pesisir di Banda Neira.
Rahayamtel menyampaikan bahwa peristiwa tersebut berkaitan dengan kelalaian pihak kapal yang dipicu gangguan teknis pada mesin. Penyebab kapal gagal dikendalikan saat hendak sandar masih menjadi fokus perhatian awal aparat.
Insiden ini juga menunjukkan tingginya risiko ketika kapal mengalami kendala teknis di area pelabuhan yang berdekatan dengan rumah penduduk. Di wilayah seperti Banda Neira, ruang manuver kapal yang terbatas membuat gangguan pada satu bagian mesin dapat berdampak luas.
Kerusakan pada rumah, long boat, dan mesin ketinting memperlihatkan bahwa gangguan pelayaran tidak selalu berhenti di dermaga. Dalam kasus KM Sabuk Nusantara 106, dampaknya justru merembet ke perlengkapan warga yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan melaut.
Hingga keterangan polisi disampaikan, perhatian utama tetap tertuju pada error mesin kanan yang terjadi saat proses sandar. Fakta bahwa kapal masih bergerak meski mesin telah dinetralkan dan gigi mundur sudah dipasang menjadi bagian penting dari rangkaian kejadian yang berakhir dengan tabrakan di Banda Neira.
Source: www.viva.co.id




